Sabtu, 23 Oktober 2010

sungguh...

sungguh! aku cukup kecewa... mungkin hanya sebuah pertanyaan, tapi tidakkah sadar? pertanyaan itu menohok ulu hatiku,,, hingga tumpahan air mata tak mampu lagi ku bendung,, urat-urat hatiku lemas,, membayangkan mendung itu menjadi hujan berhalilintar. oh,, sungguh!! jika pertanyaan itu terlontar lagi, maka mungkin aku akan menjadi yakin tentang sesuatu yang menakutkan itu...

Sabtu, 03 Juli 2010

harus bagaimana....

harus bagaimana.... aku yang terbiasa memberikan dan diberikan,,, kini harus selalu mengemis untuk mendapatkan...
apakah sedang mengujiku atau memang benar begitu.. tak dapat berkata ketika fakta berbicara yang kedua.. mengertilah duhai...
aku tak pandai menerjemah....
ajari aku dengan hati, atau tinggalkan aku!!!

Jumat, 21 Mei 2010

Impian Sirna itu …

Hatiku tak karuan sepulang dari ndalem. Pikiranku berkecamuk memikirkan tawaran bu nyai yang memanggilku tadi. Aku tak habis pikir mengapa beliau memilihku dari sekian banyak santri putri yang mondok di pesantrennya untuk dijodohkan dengan putranya yang masih menuntut ilmu di Mesir. Gus Abid, begitu kudengar namanya. Ia tak pernah pulang semenjak berumur 18 tahun bersekolah di Mesir. Namun namanya harum dikalangan pesantren karena ia dikabarkan adalah sosok pemuda berilmu dan berakhlak.

Aku tertunduk lesu dan memilih duduk di tepi musalla sambil terus memburu jawaban yang mungkin tak akan pernah ku temukan. Mengapa pilihan bu nyai jatuh pada diriku? bukankah ada mbak Fitri sang primadona pondok yang lebih alim, cantik, bernasab dan sudah tentu lebih pantas menggantikan posisi pengasuh kelak? Apalah artinya seorang Nia Fathiyatuz Zahro dibandingnya. Bagaimana dengan mas Ubayd yang telah berjanji padaku untuk segera mengkhitbahku selepas lulus dari Timur Tengah nanti... Ah tidak! aku harus tetap mempertahankannya. Bagaimanapun juga aku lebih tahu dan mengenal mas Ubayd dari pada gus Abid walau hanya melalui dunia maya. entahlah! Kesalihan dan caranya bertutur dalam aksara mampu membangun keyakinan dalam hatiku, Toh, mas Ubayd telah mengenal orang tuaku, demikian juga sebaliknya, batinku berdalih.

Namun, ternyata hatiku tak setegas argumen dalam pikiranku. Jiwaku masih diliputi rasa bimbang pada dua keadaan yang harus kupilih; mempertahankan mas Ubayd atau menerima tawaran bu nyai yang lebih mirip titah itu. Keyakinanku akan kesalihan mas Ubayd tak mudah begitu saja diruntuhkan. Namun juga keta’dziman ku pada bu nyai tak sanggup kukorbankan. Itulah mengapa aku meminta waktu seminggu untuk berpikir.

Lima hari dalam seminggu telah berlalu, tinggal dua hari lagi!. Aku harus memikirkan jawaban yang tepat, karena ini menyangkut masa depanku kelak. Curhat pada senior dan istikhoroh telah kujalani. Namum kebanyakan jawaban yang “kuterima” adalah jawaban yang tak kuharapkan. Menerima tawaran bu nyai mewarnai ikhtiyar “insany” dan “ilahy”-ku. Aku memilih untuk tidak meminta pertimbangan orang tuaku, karena mereka terlalu “demokratis” untuk urusan ini, sehingga hampir ku tahu jawaban pasti mereka, “semua terserah kamu nduk, kami akan mendukung setiap keputusanmu…”. Ini juga yang terjadi pada kakak perempuanku dahulu yang juga mondok di pesantren yang sama denganku.

***

“Sudahlah Nia,, terima saja lamaran bu nyai.. pasti akan banyak sekali barokahnya, lagipula mas Ubayd-mu itu belum jelas. Kamu hanya tahu wajah dan kepribadiannya lewat dunia maya saja. Jangan-jangan, ia cuma menipu, kamu kan tahu sendiri sekarang banyak kejadian-kejadian penipuan lewat dunia maya...” tegas mbak Ida, salah satu seniorku. Hatiku tertohok mendengar ucapannya. Dilain pihak, aku tak menyalahkannya. Karena tentu ucapannya sangat berdasar. Kasus-kasus penipuan melalui dunia maya yang cukup santer akhir-akhir ini memang patut dipertimbangkan. Namun disisi lain, aku tak bisa berbohong, hatiku telah tertambat pada kesalihan mas Ubayd, pada caranya berta’aruf denganku yang tidak berlebihan dan sifatnya yang dewasa, serta pada caranya menarik simpati kedua orang tuaku, –sekali lagi--, walau hanya melalui dunia maya dan beberapa pemberiannya yang tak pernah absen setiap kali hari raya datang.

Mataku menerawang, mencoba menerjemahkan setiap hasil ikhtiyar yang kuterima. Hingga kusampai pada sebuah kesimpulan bahwa aku harus mematuhi titah bu nyai yang itu berarti, aku harus melepaskan mas Ubayd. Hatiku bergemuruh, tak mampu lagi berkata-kata. Hanya air mata yang berbicara…

***

Segera kutulis sebuah message yang kutujukan pada mas Ubayd melalui emailnya. Dalam surat kutumpahkan semua kegundahan dan kesedihan mendalam yang kurasakan saat ini dan mengenai keputusan ku untuk lebih memilih tawaran bu nyai atas nama ketakdziman ku pada beliau. Tangisan pun tak mampu kubendung. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan mas Ubayd mengetahui keputusan sepihak-ku ini. Namun aku tak punya pilihan lain, tawaran bu nyai yang menjanjikan kesalehan putranya dan atas nama ketakdziman pada beliau kurasa wajib didahulukan daripada hubunganku dengan mas Ubayd yang memang tidak terlalu pasti. Aku bertekad tak ingin tahu balasannya nanti, karena kuyakin, hatiku akan kembali goyah jika kubaca balasan darinya. Segera kukirim dan beranjak dari warnet yang tak jauh dari pondokku, lalu bergegas menuju ndalem untuk memberitahu keputusanku pada bu nyai karena hari ini adalah hari terakhir dari waktu yang diberikan bu nyai untukku berpikir. “Alhamdulillah… nduk, terima kasiih. Ibu bersyukur sekali. Ibu akan selalu mendoakan kamu dan Abid bisa langgeng dan barokah. Amin.. oh, ya, seminggu lagi dia pulang. Nanti aku akan manggil kamu lagi agar dia bisa nadzor.., yo wes,, sudah dzuhur, ndang jama’ah..” tutur bu nyai halus. Aku tertunduk lemas. Pikiranku masih melayang bersama mas Ubayd dan impian-impianku bersamanya. Duh gusti.. kuatkan aku! pipiku basah..

***

Aku membisu, tak ada nyali untuk mendongakkan muka, apalagi tersenyum. Hari ini kembali aku dipanggil ke ndalem untuk di-nadzor-kan pad gus Abid. Dengan berat, aku melangkahkan kaki menuju ndalem, aku akan bertemu calon suami yang sama sekali tidak kucintai dan hanya bermodalkan kepercayaan barokah takdzim pada guru. Mataku berkaca-kaca, namun cepat-cepat kubendung. Kudapati bu nyai yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca al-Quran. Aku mengucap salam.

“waa’alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh… sini duduk nduk. Tak panggilne Abid.” Dawuh bu nyai sembari beranjak menuju salah satu kamar. Aku membisu. Tak ada kata yang ingin kuucapkan. Aku hanya ingin diam, diam dan diam. Kemudian kurasakan dua sosok keluar dari dalam kamar namun tak berani kudongakkan kepala sebelum akhirnya bu nyai memanggilku, “Nia,,, ini Abid yang insyaAllah yang akan menjadi suamimu…”

Perlahan, kutengadahkan kepala. Dan setelah mendapati gambaran sempurna, tiba-tiba nafasku tersekat, dadaku sesak, waktu seakan terhenti. MasyaAllah! Subhanallah! mas Ubayd berada dihadapanku. Sosok yang selama ini hanya bisa kulihat dari layar, kini nyata tersenyum padaku. Tidak! Aku mencoba mengendalikan emosi. Kucubit pahaku, sambil memastikan apakah ini cuma khayalan, karena terus terang, pikiranku masih bersama impian-impianku dengan mas Ubayd. Namun ternyata sakit kurasa. Berarti ini bukan mimpi! Duh Gusti,,, bagaimana bisa kuungkap rasa syukurku padaMu. Tak terasa, air mataku mengalir deras. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Segera aku memohon diri pada beliau berdua dan bergegas keluar untuk meneriakkan kebahagiaanku. Oh Tuhan… Aku bahagia! Bahagiaa sekali… Engkau sirnakan impian-impianku bersama mas Ubayd dengan kebahagiaanku bersama Gus Abid. Ubayd atau Abid sama sajalah…. ^_^